Berkat Presiden Soekarno, Bahasa Indonesia Hadir di Warsaw Rising Museum

Edukasi  
Warsaw Rising Museum atau Museum Kebangkita Kota Warsawa.

ruzkarepublika.co.id - Orang Polandia menyebutnya Warsaw Rising Museum atau Museum Kebangkitan Kota Warsawa. Tapi lebih populer disebut Museum Powstania Warsawskiego. Tempat ini saksi sejarah Warsawa.

Powstania Warsawskiego didedikasikan untuk semua aspek pemberontakan Warsawa terhadap komunis. Museum ini dibangun pada 1983. Tapi butuh 15 tahun sebelum museum dibuka pada 13 Juli 2004. Bertepatan dengan ulang tahun ke-60 pecahnya perang Warsawa.

Kota Warsawa memberikan penghargaan kepada para pahlawannya yang membebaskan Polandia dari invansi komunis Uni Soviet.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ketika itu kelompok gerilya Polandia di bawah pimpinan Jenderal Bor Komorowski berusaha merebut Warsawa dari tangan Jerman. Pemberontakan terjadi, pemimpin Rusia, Josef Stalin, membuat langkah menentukan yang menghancurkan perlawanan orang Polandia.

Stalin membiarkan tentara Jerman membunuh para gerilyawan. Diperkirakan 150 ribu penduduk Warsawa tewas.

Tak pelak di museum ini tersimpan senjata para gerilyawan Warsawa saat mengusir komunisme. Termasuk sebuah pesawat perang dan mesin cetak.

Dengan luas lebih dari 3.000 meter, museum ini juga menyimpan 1.000 foto dan 1.500 film dokumenter. Museum ini banyak dikunjungi turis dari mancanegara. Tiap hari tak kurang dari 700 orang.

Bila hari libur bisa di atas 1.000 orang. Tiap pengunjung dikenai biaya 19 zloty (PLN) atau sekitar Rp 55 ribu.

"Setiap hari turis dari mancanegara berkunjung ke sini. Wartawan asing juga banyak," kata Anita Lipnicka, salah satu petugas museum menerangkan kepada saya.

Saya sangat menikmati ketika berada di museum Warsaw Rising. Beberapa di antara pengunjung saya amati dengan tekun mengikuti penjelasan dari pemandu museum. Namun banyak juga yang sekadar melihat-lihat berbagai benda yang ada di museum tersebut.

"Kami sangat tersentuh dengan aksi heroik dan keberanian dari warga Polandia selama masa kelam ini," ujar salah seorang pengunjung asal Yunani.

"Saya dari Yunani, dan kami juga menderita di bawah penjajahan sebab kami cinta damai."

"Saya sudah sering berkunjung ke berbagai museum di dunia, dan hanya ada dua museum yang membuat saya harus menahan nafas," tulis salah seorang pengunjung di buku tamu.

"Pertama adalah museum bom atom di Nagasaki, Jepang dan yang kedua adalah di sini. Ini pengalaman yang tak terlupakan," sambungnya.

Museum terletak di pusat kota. Persisnya di Jalan Grochowska 79, Warsawa. Sekitar 30 menit dari tempat saya menginap di Czapelska, Warsawa.

Seluruh bangunannya terbuat dari baja. Dindingnya terukir kalender pemberontakan terhadap peristiwa. Suara detak jantung dapat didengar dari dalam melambangkan kehidupan Warsawa tahun 1944.

Dari atap museum bisa dilihat pemandangan indah Warsawa dan Freedom Park dengan Wall Memorial yang diukir nama-nama lebih dari 10 ribu gerilyawan yang gugur dalam pertempuran.

Pengunjung dipandu melalui tahap berikutnya dari kebangkitan sampai saat pemberontak meninggalkan Warsawa. Nasib mereka selanjutnya juga digambarkan.

Pada bangian tengah dinding ada lonceng Monter digantungkan. Lonceng seberat 230 kg itu didedikasikan untuk Jenderal Antoni Chrusciel.

Pengunjung bisa juga melihat film tiga dimensi (3D) Kota Ruins. Ini simulasi penerbangan pesawat Liberator saat Warsawa dihancurkan pada 1945.

Yang menarik lagi, audio guide museum ini. Bukan hanya berbahasa Polsky (bahasa resmi Polandia). Tapi juga dilengkapi dengan 27 bahasa. Termasuk bahasa Indonesia. Selidik punya selidik, ternyata ada peran Soekarno, Presiden RI pertama.

Caranya sangat mudah. Saya mencoba memasukan uang koin, kemudian tinggal pilih bahasa. Sangat jelas suara.

Hal ini lantaran hubungan diplomatik Indonesia dan Polandia terjalin sejak 1950. Ketika Polandia mengakui kedaulatan RI. Kabarnya Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat berkunjung ke Polandia dan bermalam di Istana Wilanowie.

Istana ini terletak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Warsawa di daerah Wilanow. Berdasarkan cerita warga lokal, tempat ini merupakan istana para raja Polandia.

Enam tahun kemudian, Polandia membuka kedutaan besarnya di Jakarta. Sedangkan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Warsawa dibuka pada 1960 setelah kunjungan Presiden Soekarno ke Polandia pada 1959. * (suryansyah)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

menulis apa saja yg bermanfaat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image